RESUME #DAY 1

 

Resume Materi Day 1

  • Materi 1    

Kehidupan Berbangsa, Bernegara, Jati Diri Bangsa, dan Pembinaan Kesadaran Bela Negara
Pemateri : Prof. Yudi Latif, MA., Ph.D (Ketua Pusat Studi Islam dan KenegaraanIndonesia/ PSI Indonesia)

    Salah satunya seperti "Kita harus mencari titik temu, common ground?" Jadi bukan memperluas titik-titik biasa, tapi menentukan titik temu dalam kehidupan berbangsan dan bernegara.

Bagaimana caranya membangun titik-titik temu? 

    Pertama mengembangkan jaring-jaring silaturahmi, jaring-jaring kontak, jaring-jaring konektivitas. Jadi pergaulan kita harus mulai diperluas. Bukan hanya sesama agama saja,  sama satu universitas saja, tapi terus rante-rante pergaulan kita itu diperluas. Perlintasi batas etnis, batas agama. 
    Kenapa? Karena manusia itu makhluk yang paradox, benda. Di satu sisi sebagai makhluk sosial selalu ingin mengembangkan pergaulan. Tapi di sisi lain, manusia itu di dalam bergaulnya itu cenderung diarahkan kepada orang lain yang dianggap memiliki kesamaan, itu setelan dasarnya. Jadi ada semacam insting tribal dan kita cenderung mengembangkan pergaulan. 
    Caranya bagaimana? Caranya itu yang asing itu bukan harus kita jauhi, tapi yang beda, yang asing itu harus kita kenali. Karena pengenalan itu lama-lama perasaankah itu. Ternyata sesuai orang yang sebelumnya kita sangka itu serem, misalnya dengan warna kulit tertentu, ras tertentu, semula kita sangka serem atau berbahaya, ternyata kita kenali lebih baik, ternyata menyenangkan. 
    Makanya kita punya pepatah, tak kenal, maka tak cinta. Begitu dari dalam al-Quran, kan diingatkan, Laki perempuan berbangsa-bangsa bersuku-suku itu bukan untuk saling mengasingkan, tapi juga untuk berkenalan, mengenal, satu sama lain dengan mengembangkan jaring-jaring, setelah al-Quran itu. 

    Yang kedua, kita harus mengambangkan jaring-jaring inklusivitas. Yaitu, inklusivitas itu kesetaraan akses. Kesetaraan akses pada pendidikan, pada kesehatan, pada layanan publik, kesetaraan di depan hukum. 
    Ya, kita harus bertahan dalam partisipasi politik. Jadi, jangan sampai kekuasaan dan akses kesempatan hanya dikuasai oleh orang tertentu, keluarga tertentu, golongan tertentu, wilayah tertentu, atau gender tertentu. Karena kalau sumber daya dan peluang-peluang itu ekslusif dikuasai secara ekslusif oleh orang tertentu, golongan tertentu, agama tertentu, wilayah tertentu, itulah yang akan mulai berbagi bentuk dan retakan-retakan sosial. 

    Nah, jaring konektivitas dan inklusivitas itulah kemudian kita ikat. Jadi bhinneka tunggal ika, beragam itu tapi juga satu itu. 
    Kalau gsudur secara mudah mengertikan bhinneka tunggal ika itu maksudnya kalau yang beragam, kalau yang berbeda, ya kan jangan di-sama-sama kan. Kalau yang sama, jangan di-beda-beda kan. Kita beda etnis, beda agama, yaitu fakta yang harus kita hormati. Tapi saat yang sama, meskipun kita beda agama, beda warna kulit, beda suku. Ada unsur-unsur yang bisa menautkan kita. 
    Jadi misalnya, meskipun warna kulit kita berbeda, tulang kita tetap sama putih dan darah kita sama merah. Ada ikatan-ikatan yang menyatukan kita. Kita boleh berbeda etnis, agama, atau aliran, tetapi kita berasal dari asal yang sama, bertemu dalam kemanusiaan yang sama, bertemu dalam tumpah darah yang sama, serta dipersatukan oleh dasar negara, situasi bersama, dan lambang-lambang bersama, bahasa persatuan yang sama, dan lain-lain. Itu yang membuat perbedaan tidak menjadi pangkatan, perbedaan memperkuat kita, memperkaya kita, seperti di alam-alam daingkungan alamnya. 
    Di lingkungan alam, semakin beragam aneka ragam hayati maka ekosistemnya akan semakin kuat. Sebaliknya, jika ekosistem bersifat monokultur, misalnya hanya terdiri dari satu jenis tanaman, maka akan lebih rawan terhadap berbagai penyakit.
    Artinya, keragaman tidak harus selalu dibayangkan sebagai sumber malapetaka. Dengan kearifan, kita tahu kapan harus menghormati perbedaan, dan kita tahu kapan harus bersatu 
    Jika kita memiliki tujuan bersama, maka kita akan bisa mengalirkan kekuatan bersama. Karena itu, agar keragaman tidak menjadi pangkal kekacauan, tetapi menjadi pangkal kebaikan dan kekuatan, maka konektivitas dan inklusivitas perlu diikat oleh sebuah ikatan nilai, yaitu nilai integritas.

  • Materi 2

Penguatan Literasi Keuangan dan Kesejahteraan Mahasiswa
Pemateri : Erisandy Yudhistira (Priority Banking Manager Bank Mandiri)

    Pada materi awal membahas sesuatu yang menarik dari Warren Buffet. Jadi Warren Buffet ini adalah seorang investor, beliau adalah investor yang investasi. Investor yang kekayaannya itu menurut laporan di bulan Agustus 2025 kalau di rupiahkan itu secara setara 2.300 triliun rupiah. 
    Mungkin hampir 11-12 dengan aset bank mandiri, Paibat dan dekat dengan sekalian. Kalau saat ini aset bank mandiri kurang lebih di atas 2200-2400 triliun. Seorang Warren Buffet ini asetnya hampir sama atau bahkan mungkin kalau bisa dibilang lebih sedikit dari bank mandiri. 
    Warren Buffet ini cukup menarik karena satu quote-nya itu bahwa the most important investor itu adalah diri kita sendiri. Jadi aset yang paling penting itu adalah masing-masing individu atau potensi yang bisa didapatkan dari masing-masing individu tersebut. 
    Kita sebagai calon-calon pemimpin di masa depan harus mulai bisa mengukur ataupun menentukan kekuatan ataupun dari potensi yang dimiliki masing-masing.

    Salah satu contoh yang di bahas yakni Rafi Ahmad. Siapa sih yang bakal menyangka seorang Rafi Ahmad gitu diberi Dr. Rafi Ahmad. Mungkin 25 tahun yang lalu kita tidak pernah tahu bahwa seorang Rafi Ahmad itu akan memiliki kekayaan ataupun memiliki aset ataupun sebagai seorang Rafi Ahmad sebagai seorang entertainer. 
    Jadi 20 tahun yang lalu, kalau tidak salah, Raffi Ahmad ini masih main di acara televisi, tapi sifatnya hanya partial saja. Kalau misalnya ngelenong dan lain sebagainya. Tapi 25 tahun setelah itu, tempatnya di tahun 2025, saat ini seorang Raffi Ahmad, selain dia juga sebagai artis, sebagai entertain, kemudian juga dia saat ini selaku pubisitas juga, lalu kemudian memiliki jabatan atau posisi yang sangat strategis sekali di pemerintahan, dan masih banyak lagi ini bisnis lainnya yang dimiliki seorang Raffi Ahmad.

  • Materi 3

Mencetak Mahasiswa Sukses Berwirausaha
Pemateri : Zahra Amelia Dewi Gunawan - Mahasiswa Gizi

    Sharing mengenai experience Kak Amel yang memperkenalkan sebagai seorang owner Baking Studio yang bukan jualan full produk tetapi jual jasa sebenarnya. Jadi seperti menyediakan acara atau kegiatan untuk orang-orang di Surabaya yang ingin belajar masak atau belajar kue.

Gimana sih cara kak Amel bisa sampe di titik itu?

        1. Menentukan market pasar
    Yang pertama adalah yang paling penting target pasar atau market pasar. Jadi, dalam sebuah bisnis jangan lihat dari seseorang yang bisa bikin bisnis tapi gimana cara bisnis itu tetap berjalan dalam beberapa tahun kedepan.

       2. Tekun dan optimis, berani ambil resiko, loyalitas konsumen
    Perlu memiliki sifat tekun untuk bisa bertahan selama beberapa tahun. Apabila kita sudah menemukan potensi, minat atau bakat yang bisa di jadikan bisnis, kita tekuni 1 bidang bisnis tersebut maka bisa berkembang lebih besar.
    Selanjutnya Optimis, kalau berbisnis ini semisal ada penjual ya ada pembeli walaupun ga pasti 100%. 
    Lalu berani ambil resiko, harus berani ambil resiko kalaupun salah kita jadikan sebagai pembelajaran dan evaluasi.
    Terakhir loyalitas konsumen, karena kita butuh konsumen yang loyal. Kalau semisal konsumen itu beli produk kita cuman satu kali itu ga ada artinya apalagi untuk makanan, kalau tidak beli untuk kedua kalinya berarti tidak cocok rasanya dengan konsumen. 

       3. Relasi dan Tim
    Menurut Kak Amel, paling penting adalah relasi dan tim. Dalam pandangan bisnis itu relasi atau relasi bisnis lebih penting daripada teman. Percaya atau tidak 90% yang menghadiri acara Kak Amel itu bukan teman, full dari orang lain. Sebenarnya teman bermanfaat dalam segi support tetapi mereka tidak sejatinya membeli produk tersebut.

  • Materi 4

Mahasiswa Berkarakter dengan Anti Kekerasan Seksual, Anti Perundungan, Sehat Mental dan Perilaku Menyimpang
Pemateri : Hafid Algristian, dr., Sp.KJ - Dosen UNUSA, RSI

    Membahas mengenai Perundungan. Seperti seandaninya kita sedang membenci seorang teman kita, pasti perilaku yang dibuat selalu salah, karena kita sudah menganggap orang ini sebagai korban. Sehingga kemudian ketika kita melihat seseorang jangan sampai perasaan kita yang di dahulukan adalah betul ketika namanya perilaku bullying atau perundunga itu sesuatu yang menyakitkan. Tetapi ketika menilai suatu perbuatan benar atau salah, jangan di dasarkan pada perasaan sekalipun itu bullying.
    Menanggani sesuatu itu benar atau salah tidak di ukur dari perasaan. Jadi, karena kita tersinggung harus hati-hati kemudian untuk menilai suatu itu perbuatan benar atau salah. Ini termasuk juga dalam konteks interaksi kita dengan orang lain. 
    Kenapa ini harus di pahami dulu? Supaya dalam melihat suatu perbuatan atau interaksi yang kurang menyenangkan itu kita betul-betul objektif. Coba memisahkan dulu antara perasaan kita dan penilaian objektif terhadap sesuatu.
    Ketika kita dalam suatu interaksi sosial, kalau kita ingin memahami bagimana keadaan orang lain dan keadaan kita. Maka kita harus stop untuk bertukar atau saingan nasib buruk.
    
Lihat juga blog teman saya : nabila aisyah rahmania

Komentar

Postingan Populer